Sunday, April 13, 2008

Menjadi Kumbakarna atau Gunawan Wibisana

Siapakah Kumbakarna dan Gunawan Wibisana

Kumbakarna dan Gunawan Wibisana adalah adik Rahwana, Raja Alengka, dalam epos Ramayana karya Walmiki.
Kumbakarna berarti telinga yang besar. Nama ini diambil karena pada waktu lahir dia hanya berupa sebuah telinga. Karena kesaktian ayahnya yang seorang pertapa, telinga ini bisa berubah menjadi raksasa. Meskipun sosoknya raksasa, Kumbakarna memiliki hati yang baik, tidak seperti kakaknya yang angkara murka.
Gunawan Wibisana adalah satu-satunya yang berwujud manusia diantara empat bersaudara, Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakanaka. Wibisana memiliki hati yang juga baik.

Apa yang membedakan dua saudara ini?

Ketika Rahwana menculik Shinta, istri Rama Wijaya, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana selalu menasehati sang kakak agar mengembalikan Shinta pada suaminya. Rahwana yang jengkel karena dua adiknya ini dianggap selalu menghalangi kehendaknya memarahi keduanya. Kumbakarna mengambil sikap tidak peduli lagi pada apa yang diperbuat kakaknya dengan cara tidur panjang. Dia baru bangun ketika pasukan Alengka mengalami banyak kekalahan. Kumbakarna ikut berperang bersama pasukan Alengka, bukan bermaksud membela perbuatan kakaknya, tetapi untuk membela kehormatan negaranya yang sedang diserang. Sementara Wibisana menyeberang ke kubu Rama dan menjadi penasehatnya ketika berperang melawan alengka

Nasionalisme atau Kebenaran

Seorang bangsawan dari sebuah keraton di daerah Jawa -saya lupa namanya dan judul buku yang ditulisnya- memuji keluhuran sikap Kumbakarna. Sesalah apapun negara sebagai warga negara kita tetap harus membelanya ketika negara dalam bahaya, karena itulah sebuah pengabdian.
Kalau kita memperhatikan cerita Ramayana, banyak sekali "penyimbolan". Kenapa pasukan kera yang dipergunakan untuk mengalahkan keangkaramurkaan ? Makna apa yang ada di balik penggunaan simbol pasukan kera. Kenapa Kumbakarna berwujud raksasa, kenapa Wibisana berwujud manusia. Saya melihat keberadaan Kumbakarna sebagai simbol dari sikap nasionalis, Sementara keberadaan Wibisana sebagai simbol seorang yang lebih menjunjung kebenaran. Siapapun, kalau dia bersalah harus diluruskan, bila perlu dengan perang. Yang menjadi bahan pemikiran saya kalau mereka adalah simbol dari nasionalis dan pembela kebenaran, kenapa Kumbakarna berwujud raksasa sementara Wibisana berwujud manusia.

Bagaimana dengan pandangan Al Quran dan Hadits?

Ada sebuah hadits yang isinya kurang lebih "Membela tanah air adalah sebagian dari iman"
Sejujurnya saya belum meneliti kesahihan hadits ini. Saya sepertinya menemukan kejanggalan ketika hadits ini di hadapkan pada kandungan Al Quran. Dengan kata lain, saya mencurigai kesahihan hadits ini.
Pertama
Sesungguhnya Kami ciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepadaku.
Saya pikir inilah alasan kenapa manusia diciptakan.Di jaman yang semakin mengglobal ini apakah arti nasionalisme. Apakah nasionalisme ditentukan dengan KTP? Semakin banyak orang yang berpindah kewarganegaraan. Negara mana yang harus dia bela? Ketika suatu negara berseberangan dengan nilai-nilai agama apakah kita masih terus membela negara?
Sesungguhnya hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Pernahkah Anda menemukan salah satu doa yang berbunyi Sesungguhnya hidupku dan matiku hanya untuk negaraku?
Kedua
Sebuah hadits yang kurang lebih berbunyi
Jika ada dua orang muslim saling membunuh -dengan alasan yang tidak jelas- kedua-duanya akan masuk neraka.

Bahan Renungan

Pernahkah Anda memikirkan, adakah salah satu dari pasukan amerika yang dikirim ke Iraq yang beragama islam?
Atau pernahkah Anda merenungkan apakah tentara Indonesia yang dikirim di aceh di masa lalu beragama islam? Dengan alasan apakah pasukan GAM dan pasukan TNI saling membunuh di sana?

Cukup bijaksanakah kita sehingga menganggap aturan Allah kurang bijaksana?

Pada akhirnya maukah Anda menjawab pertanyaan saya, mana yang Anda pilih? Menjadi Kumbakarna atau menjadi Wibisana?



 

0 comments: